Showing posts with label Article Love. Show all posts
Showing posts with label Article Love. Show all posts

Friday, July 29, 2011

Cinta itu seperti Bunga


Suatu hari terlihat di sebuah halaman rumah seorang wanita sedang menyirami tanaman bunga yg sedang mekar, ia juga membersihkan daun-daun kering, dan rumput liar yg ada di sekitar tanaman bunga tersebut.

Ia sepertinya sangat menikmati pekerjaannya. Sesekali ia tersenyum sendiri demi melihat bunga yg ia rawat selama ini terlihat begitu indahnya. Sering terlintas dipikirannya untuk memetik bunga tersebut dan memindahkannya ke dalam vas, yg kemudian akan dipajang
di dalam kamarnya.                                              

Tapi kemudian ia berpikir lagi, alangkah egoisnya ia jika ia melakukan hal tersebut. Dan tentunya walaupun ia bisa menikmati indahnya bunga
tersebut, tapi umurnya tidak akan lama karna bunga tersebut akan cepat layu karna telah terpisah dari batang dan akarnya.

Akhirnya ia berjanji pada dirinya sendiri untuk membiarkan bunga itu tetap berada di halaman agar setiap orang yg lewat dapat menikmati
keindahannya. Dan ia berjanji akan tetap merawatnya agar ia dapat bertahan hidup, mekar dan mewangi lebih lama.

*** Seringkali banyak dari kita yg tidak menyadari bahwa cinta itu tak selamanya harus memiliki. Cinta yg tulus itu adalah bila kita mampu berbuat agar orang yg kita cintai itu bahagia, tanpa mengharapkan balasan.

Wednesday, July 27, 2011

Cinta yg melewati musim panas n dingin


Bagaimana Aku tau  bahwa cinta kami cukup dalam untuk
menghantar kami ke
arah berdampingan seumur hidup???, menuju kepada
kesetiaan yang sempurna????
Bagaimana Aku dapat yakin bahwa cinta kami ini cukup
matang untuk diikat???
sumpah nikah serta janji untuk berdampingan seumur
hidup sampai maut
memisahkan???

Pertama,
Ujian untuk merasakan sesuatu bersama.
Cinta sejati ingin merasakan bersama, memberi,
mengulurkan tangan.Cinta sejati memikirkan pihak yang lainnya,
bukan memikirkan diri sendiri. Jika kalian membaca sesuatu,
pernahkah kalian berpikir, aku ingin membagi ini bersama sahabatku?
Jika kalian merencanakan sesuatu,adakah kalian hanya berpikir tentang apa
yang ingin kalian lakukan, ataukah apa yang akan menyenangkan pihak lain?
Sebagaimana Herman Oeser, seorang penulis Jerman
pernah mengatakan,
"Mereka yang ingin bahagia sendiri,janganlah kawin. Karena yang penting
dalam perkawinan ialah membuat pihak yang lain bahagia.
Mereka yang ingin dimengerti pihak yang lain, janganlah kawin. Karena
yang penting di sini ialah mengerti pasangannya.

Maka batu ujian yang pertama ialah:
"Apakah kita bisa sama-sama merasakan sesuatu?
Apakah aku ingin menjadi bahagia atau membuat pihak
yang lain bahagia?"

Kedua, Ujian kekuatan.AKU
pernah menerima surat dari seorang yang jatuh cinta, tapi sedang
risau hatinya. Dia pernah membaca entah di mana,
bahwa berat badan seseorang
akan berkurang kalau orang itu betul-betul jatuh cinta.
Meskipun dia sendiri mencurahkan segala perasaan cintanya,
dia tidak kehilangan berat badannya
dan inilah yang merisaukan hatinya. Memang benar,
bahwa pengalaman cinta
itu juga bisa mempengaruhi keadaan jasmani.
Tapi dalam jangka panjang cinta
sejati tidak akan menghilangkan kekuatan kalian;
bahkan sebaliknya akan
memberikan kekuatan dan tenaga baru pada kalian. Cinta
akan memenuhi
kalian dengan kegembiraan serta membuat kalian
kreaktif, dan ingin menghasilkan
lebih banyak lagi.

Ujian kedua:
"Apakah cinta kita memberi kekuatan baru dan memenuhi
kita dengan tenaga
kreaktif, ataukah cinta kita justru menghilangkan
kekuatan dan tenaga kita?"

Ketiga, Ujian penghargaan.
Cinta sejati berarti juga menjunjung tinggi pihak yang
lain. Seorang gadis
mungkin mengagumi seorang Cowok, ketika ia melihatnya
bermain bola dan
mencetak banyak gol. Tapi jika ia bertanya pada diri
sendiri, "apakah aku
mengingini dia sebagai ayah dari anak-anakku? ",
jawabnya sering sekali
menjadi negatif. Seorang pemuda mungkin mengagumi
seorang gadis, yang
dilihatnya sedang berdansa. Tapi sewaktu ia bertanya
pada diri sendiri,
"apakah aku mengingini dia sebagai ibu dari
anak-anakku? ", gadis tadi
mungkin akan berubah dalam pandangannya.

Pertanyaannya ialah: "Apakah kita benar-benar sudah
punya penghargaan yang
tinggi satu kepada yang lainnya?
Apa aku bangga atas pasanganku?"

Keempat, Ujian kebiasaan.
Pada suatu hari seorang gadis  yang sudah
bertunangan datang pada
aku.
Dia sangat risau, "Aku sangat mencintai tunanganku,"
katanya, "tapi aku
tak tahan caranya dia makan apel." Gelak tawa penuh
pengertian memenuhi
ruangan.
"Cinta menerima orang lain bersama dengan
kebiasaannya. Jangan kawin
berdasarkan paham cicilan, lalu mengira bahwa
kebiasaan-kebiasaan itu akan
berubah di kemudian hari. Kemungkinan besar itu takkan
terjadi. Kalian
harus menerima pasanganmu sebagaimana adanya beserta
segala kebiasaan dan
kekurangannya.
Pertanyaannya: "Apakah kita hanya saling mencintai
atau juga saling
menyukai?"

Kelima, Ujian pertengkaran.
Bilamana sepasang muda mudi datang mengatakan ingin
kawin, harus selalu
menanyakan mereka, apakah mereka pernah sesekali
benar-benar bertengkar -
tidak hanya berupa perbedaan pendapat yang kecil,
tetapi benar-benar
bagaikan berperang. Seringkali mereka menjawab, "Ah,
belum pernah, pak,
kami saling mencintai." Saya katakan kepada mereka,
"Bertengkarlah dahulu -
barulah akan kukawinkan kalian." Persoalannya
tentulah, bukan
pertengkarannya, tapi kesanggupan untuk saling
berdamai lagi. Kemampuan
ini mesti dilatih dan diuji sebelum kawin. Bukan seks,
tapi  ujian
pertengkaranlah yang merupakan pengalaman yang
"dibutuhkan" sebelum
kawin.
Pertanyaannya: "Bisakah kita saling memaafkan dan
saling mengalah?"

Keenam, Ujian waktu.
Sepasang muda mudi datang konseling untuk
dikawinkan. "Sudah berapa lama
kalian saling mencintai?" tanya aku. "Sudah tiga,
hampir empat minggu,"
jawab mereka. Ini terlalu singkat. Menurut saya
minimum satu tahun
bolehlah.
Dua tahun lebih baik lagi. Ada baiknya untuk saling
bertemu, bukan saja
pada hari-hari libur atau hari minggu dengan
berpakaian rapih, tapi juga pada
saat bekerja di dalam hidup sehari-hari, waktu belum
rapi, atau cukur,
masih mengenakan kaos oblong, belum cuci muka, rambut
masih awut-awutan, dalam
suasana yang tegang atau berbahaya. Ada suatu
peribahasa kuno, "Jangan
kawin sebelum mengalami musim panas dan musim dingin
bersama dengan pasanganmu."
Sekiranya kalian ragu-ragu tentang perasaan cintamu,
sang waktu akan
memberi kepastian.
Tanyakan: "Apakah cinta kita telah melewati musim
panas dan musim dingin?
Sudah cukup lamakah kita saling mengenal?"

Jangan salah pilih Pasangan Hidup


Ada Seorg  cowok keren  dan sempurna  merasa  bhw  Tuhan pasti menciptakan seorang Cewek yang sangat cantik dan sempurna  untuk jodohnya. Karena itu ia pergi berkeliling untuk mencari jodohnya,pokonya kaya sang arjuna mencari cinta gitu deh…..
Kemudian sampailah ia disebuah desa,Ia bertemu dgn seorang petani tua bijak yang memiliki 3 anak perempuan dan semuanya sangat cantik .Cantiknya sprit Putri yg dibuang dr kayangan gitu….

Cowok  itu  menemui  Pak petani  dan mengatakan bahwa ia ingin mengawini salah satu anaknya….
 tapi bingung mana yang paling sempurna n Pak Petani menganjurkan untuk melihat  mereka satu persatu n si cowok  setuju. Hari pertama ia pergi berduaan dengan anak pertama. ketika pulang,ia berkata kepada Pak Petani," Anak pertama bapak memiliki satu cacat kecil, yaitu jempol kaki kirinya lebih kecil dari jempol kanan."

Hari berikutnya ia pergi dengan anak yang kedua dan ketika pulang dia berkata,"Anak kedua bapak juga punya cacat yang sebenarnya sangat kecil yaitu agak juling."

Akhirnya pergilah ia dengan anak yang ketiga. Begitu pulang ia dengan gembira mendatangi Petani dan berkata,"inilah yang saya cari-cari. ia benar-benar sempurna."
Lalu menikahlah si cowok  dengan anak ketiga Petani tersebut. Sembilan bulan kemudian si  Istri melahirkan. dengan penuh kebahagian,si cowok  menyaksikan kelahiran anak pertamanya. Ketika si anak lahir, Ia begitu kaget dan kecewa karena anaknya sangatlah jelek.
Ia menemui Pak Petani dan bertanya " Kenapa bisa terjadi seperti ini Pak. Anak bapak cantik dan saya Tampan, Kenapa anak saya bisa sejelek itu..?""
Petani menjawab," Ia mempunyai satu cacat kecil yang tidak kelihatan .
Waktu itu Ia sudah hamil duluan.....!"

Tuesday, July 26, 2011

Saat coklat bicara!



Cinta tak dapat dipaksakan. Cinta itu akan muncul dengan sendirinya kalau memang sudah tiba waktu baginya untuk masuk ke dalam hati seseorang. Dan apbila ia sudah masuk maka tidak ada seorangpun yang dapat menyembunyikannya.

Bila aku kembali mengingat waktu aku pertama kali berjumpa dengan dirimu,

ingin rasanya aku selalu berada di masa itu.

Tetapi itu berarti aku harus meninggalkan masa kini dan menyeberangi jurang waktu yang terpisah sangat jauh. Dapatkah hal tersebut terjadi sehingga aku bisa kembali merasakan keindahan kala cinta datang memenuhi hidupku.

Andaikan sekarang aku bisa memilih, dan kalau hal itu bisa terjadi,

maka aku akan memilih untuk melupakan segala sesuatu yang terjadi selama tujuh bulan aku bersama dia.

Saat itu aku dan dia masih hanya sebatas teman biasa saja.

Belum ada ikatan diantara kita berdua. Aku berjalan di jalan yang aku pilih dan dia juga berjalan di jalan yang dia pilih.

Aku sendirian melewati setiap dentuman detik dan dia  juga sendirian melewati berlalunya waktu. Aku dan dia berjalan di jalan yang berbeda sambil mengikuti apa yang menjadi kata hati. Hati dimana semuanya akan bermula dan hati dimana semuanya akan berakhir.

Hingga akhirnya sang waktu tidak bisa berdiam diri lebih lama lagi.

Ia mempertemukan kita berdua pada suatu jalan yang bernama jalan cinta.

Aku masih ingat setiap detil peristiwa itu.

Kala itu malam sangat cerah dan bintang  yg gemerlang  menjadi hiasan malam terlihat begitu menakjubkan.

Malam itu aku merasakan kegelapan berlahan-lahan mulai meninggalkan ruang di hatiku

dan kemudian digantikan oleh suatu bentuk keindahan yang dikenal dengan nama Cinta.

Aku telah jatuh cinta kepada dia. Malam itu aku memberanikan diri menatap ke dua matanya. dan dia membalas pandanganku

dengan sorot matanya  yang bercahaya bagaikan kilau bintang malam itu.

Aku tidak dapat memendam perasaan cinta yang ada di dalam hati ini

lebih lama lagi. Bisa-bisa nanti aku membuat malam menjadi marah

dan mengurung kembali cintaku bersama kegelapannya.

Aku tak mau cintaku tertawan kembali disaat aku kini telah menemukan jalan keluar dari pekatnya hitam hati.

Malam itu, aku berkata kepada dia kalau aku mencintai dia.

Kata-kata itu keluar dari mulutku begitu mudahnya bagaikan kobaran nyala api yang mencoba menjilat segala sesuatau yang ada disekitarnya.

Mungkin memang benar kalau cinta itu tak bisa dipaksakan.

Cinta itu akan muncul dengan sendirinya kalau memang sudah tiba waktu baginya untuk masuk ke dalam hati seseorang.

Setelah cinta keluar dari mulutku, waktu seakan-akan berhenti.

Sekejap semuanya terasa sunyi dan sepi. Aku diam tak tahu apa lagi yang harus aku bicarakan, cinta adalah kata terakhir yang ada di dalam kepalaku.

Dalam sunyi dan sepi aku menunggu jawaban dia tetapi bibir dia tak bergerak,

terkatup diam. Hanya senyum di bibirmu saja yang seakan-akan berbicara namun aku tetap tak bisa memahaminya.

Aku kemudian menggengam tangannya sepanjang malam itu.

diapun membalas genggaman tanganku. Aku tak bisa menafsirkan apa arti dari gengaman tanganmu yang terasa hangat dan senyumanmu yang membawa seribu tanda tanya.

Aku tak tahu ada makna apa di balik senyuman dan tatapan mata dia malam itu.

Baru seminggu kemudian aku mengetahui maknanya.

Dia juga mencintaiku seperti aku mencintai dia.

Aku atas nama cinta mengucapkan terima kasih kepada malam karena tidak lagi memenuhi ruang di hatiku dengan kegelapannya.

Kini sebuah bintang telah bersinar di dalam hatiku.

Aku lihat bintang masih tetap bersinar diatas sana. Jumlahnya memang tak terlalu banyak. Tetapi cahayanya masih bersinar sama seperti malam itu.

Berbeda dengan malam itu, malam ini aku merasakan bintang yang ada di dalam diriku mulai meredup. Cahayanya mulai melemah.

Berlahan-lahan kegelapan kembali merasuk kedalam hatiku.

Aku tak tahu bagaimana caranya agar bintang itu bisa kembali bersinar.

Aku tak tahu. Semenjak aku dan dia menjadi sepasang kekasih segala sesuatunya terjadi di luar dari apa yang bisa aku bayangkan.

Aku bingung mengapa akhirnya menjadi seperti ini, di saat seharusnya semua berjalan begitu indah dan menyenangkan seperti kisah di dalam film-film yang aku tonton, buku-buku yang aku baca, dan cerita-cerita cinta yang aku dengar.

Besok adalah hari Valentine. Malam ini aku pergi ke mall untuk membeli kue coklat yang akan kuberikan kepada dia  sebagai hadiah baginya di hari Valentine.

Mall yang aku kunjungi terlihat ramai oleh para pengunjung yang sebagian besar

adalah remaja/pemuda. Di setiap sudut mall telah dihiasi dengan dekorasi-dekorasi Valentine dan tulisan selamat hari kasih sayang.

Aku berjalan sendiri melewati keramaian pengunjung itu, melihat ke kanan ke kiri mencari toko yang menjual kue coklat.

Kue coklat yang akan aku berikan kepada dia. Aku berharap semoga ia merasa senang dengan kue coklat yang aku berikan.

Semoga bsok aku siap untuk mengutarakan sekali lagi apa yang menjadi perasaanku kepadanya.

Jangan sampai malam bersama gelapnya berhasil menguasai hatiku lagi.

Akhirnya aku berhasil menemukan toko kue yang kucari-cari.

Rupanya banyak orang yang mau membeli kue di toko kue itu.

Terlihat antrian pembeli sampai ke luar toko. Aku melihat jam di tanganku pukul setengah sembilan malam. Sepertinya aku masih sempat untuk membeli kue

sebelum toko tutup jam sembilan.

Aku melangkah masuk ke dalam baris antrian. Aku mencoba menghitung jumlah pembeli yang ada di depanku, semuanya ada sekitar sepuluh orang.

Semoga aku tak berlama-lama di dalam antrian ini.

Rencana memberikan kue coklat sebagai kado Valentine buat dia

aku dapatkan setelah aku membaca suatu artikel yang bercerita kalau seorang pria memberikan kue kepada pasangannya sebagai hadiah maka itu bertanda pria itu

sebenarnya sudah tidak suka lagi kepada pasangannya.

Semoga dia bisa memahami makna di balik pemberianku ini.

Aku tak tahu dia suka makan kue atau tidak,

bahkan sejujurnya selama tujuh bulan berpacaran aku sama sekali tidak tahu apa yang disukai oleh dirinya.

Tujuh bulan masa pacaran aku lalui dengan perasaan yang tersiksa.

Tujuh bulan yang seharusnya tidak lama menjadi terasa lama sekali.

Sebulan pertama aku dan dia berpacaran , aku sangat senang sekali.

Setelah sekian lama aku mencari-cari pasangan yang tepat akhirnya aku menemukan seorang wanita yang aku yakini akan menjadi bagian dari hatiku.

Meskipun dia bukan seperti wanita yang secara fisik kuimpi-impikan

dan hanya seorang wanita berparas biasa, namun ada

bagian dari dia yang sangat kusukai,

yang membuat aku tidak bisa berlama-lama membisu,

yaitu rasa belas kasih yang dia miliki kepada sesama.

Aku melihat jam tanganku kembali, sekarang sudah menunjukkan jam delapan lewat tiga puluh lima menit.

Jarum detik berjalan memutar melewati angka-demi angka.

Aku terdiam memperhatikan setiap pergerakkannya. Suara detaknya terdengar sampai ke telingaku. Waktu menjadi berjalan terasa lambat.

Tiba-tiba dari arah belakangku tedengar suara yang memanggil namaku. Aku lalu menoleh kebelakang dan betapa terkejutnya aku melihat dia sedang tersenyum dengan matanya yang bersinar menatap kepadaku.

"Hai...joe, mau beli kue?"

Aku masih tak percaya kalau dia ada bersama diriku saat ini. Aku membalas senyumannya.

" sedang apa kamu disini? Kau datang sendiri atau bersama orang lain?"

"Aku sendiri...kebetulan aku juga mau membeli kue. Sebenarnya aku sudah mau pulang ketika melihat antrian yang begitu panjang tetapi sewaktu aku melihat kau juga ikut mengantri aku ingin imengantri juga."

Wajah dia terlihat begitu senang. Aku tak tahu apakah aku juga harus merasa senang dengan hadirnya dia bersamaku saat ini.

Aku memandang wajah dia, aku tak berani menatap matanya berlama-lama apalagi kalau mengingat rencanaku buat dia.

"Baguslah , aku juga tadi sudah bosan antri sendirian, untung saja dia datang jadi ada teman ngobrol." kataku kepada dia.

Beberapa pembeli baru saja menyelesaikan pembelian mereka.

Aku melangkah maju ke depan. Kini yang tersisa tinggal tiga orang lagi.

Aku terus menatap ke depan, berpura-pura kalau dia tidak ada di belakangku

walaupun aku tahu dia masih ada di belakangku

namun aku tak tahu harus membicarakan apa dengannya.

Mengapa di saat seperti ini aku selalu merasa tidak tahu apa yang harus dibicarakan.

Aku melihat jam tanganku.

Waktu menunjukkan pukul delapan lewat 45 menit. 15 menit lagi toko akan segera tutup. Aku perhatikan jarum detik yang terus bergerak, suara detaknya terdengar sampai ke telingaku. Sebenarnya aku memiliki impian akan suatu hari Valentine yang indah.

Satu hari dimana aku bisa melewatinya bersama dengan orang yang aku kasihi.

Berbagi kasih pada hari dimana semua orang di seluruh dunia bersama-sama merayakannya. Sepertinya hari Valentine tahun ini impianku tak akan terwujud.

Karena besok aku dan dia sudah berjanji untuk berbicara mengenai hubungan kami.

Dia kembali bertanya kepadaku

"joe kamu mau beli kue apa?"

Aku menjawab

"Aku mau beli kue coklat?" Jawabku singkat."

Dia kembali bertanya

"Kau suka kue coklat joe?"

Aku hanya menganggukkan kepalaku saja.

"Sama yah...aku juga mau membeli kue coklat dan aku juga suka kue coklat."

Aku memberi senyum kepada dia sebagai tanda kalau aku senang ia memiliki selera yang sama dengan aku.

"Kau masih ingat film yang pernah kita tonton dulu, judulnya Chocolate? Mulai dari sejak menonton film itulah aku semakin menyukai coklat."

"Yah aku ingat film itu, ceritanya mengenai seorang Ibu bersama anaknya yang pindah ke suatu daerah dan di sana mereka memulai usaha baru yaitu membuat kue coklat."

  Dia mengangguk-anggukkan kepalanya kemudian dia berkata

"Benar joe, cerita film itu sangat bermakna bagi diriku."

"Oh?ya? Makna apa?", tanyaku

"Dari film itu aku menjadi yakin kalau coklat dapat merubah sifat orang menjadi manis semanis coklat."

Mata dia tampak bersinar saat ia mengatakan hal itu.

Aku menganggap dia hanya mengada-ada saja. Tetapi tak ada salahnya kalau dia memiliki pikiran seperti itu.

Syukurlah berarti sebentar lagi aku bisa segera pulang ke rumah. Aku melihat jam menunjukkan pukul delapan lewat lima puluh menit.

Kini hanya satu orang lagi yang ada dihadapanku.

Aku sudah mengantri hampir setengah jam. Semoga toko itu masih memiliki persedian kue coklat, kalau tidak, maka aku terpaksa harus membelinya besok hari.

Sambil menunggu giliranku tiba aku mencoba mengingat-ingat film Chocolate yang tadi dibicarakan oleh dia.

Memang kami berdua pernah menonton film itu. Itu adalah film yang pertama kali kami tonton saat kami sudah pacaran.

Awalnya saat aku dan dia menjadi sepasang kekasih semuanya terasa menyenangkan.

Aku merasa memiliki seseorang yang bisa memberikan semangat saat aku membutuhkannya.

Aku juga merasa menjadi lebih lengkap karena memiliki seseorang yang bisa mengisi hatiku. Aku yakin dia adalah tempat perlabuhan terakhir bagi hatiku. Aku bahkan sudah membayangkan kalau aku dan dia akhirnya akan menikah.

Namun semuanya itu berubah. Satu demi satu harapanku runtuh.

Semakin lama aku mengenal dia semakin aku menyadari kalau selama ini ternyata ia tidak mencintai diriku seperti yang aku kira.

Aku mulai menyadarinya setelah hubungan kami berjalan selama dua bulan.

Pada mulanya aku melihat perasaan dia yang sebenarnya terhadapku dari gelagatnya saat aku ada bersama-sama dengan dia.

Sepanjang aku dan dia berjalan bersama, aku jarang melihat

dia tertawa dan merasa nyaman bersamaku.

Lalu setiap pertemuan kami selalu saja menjadi saat-saat yang membosankan.

Aku tak tahu apa yang  dia rasakan tapi aku sendiri sudah tidak bisa tahan lagi berpura-pura menikmati hubungan bersama dia. Lalu aku berusaha merubahnya.

Aku berusaha menjadi orang yang bisa dia banggakan dan menjadi orang yang bisa membuat dia tertawa. Tapi semua itu tidak berhasil.

Aku kehabisan tenaga dan tidak ada sesuatupun yang berubah.

Aku masih tetap berjuang mempertahankan hubungan kami. Hingga suatu saat,

dua bulan yang lalu, saat hubungan kami memasuki bulan ke lima,

dia berkata kepadaku kalau ia awalnya menerima cintaku karena merasa kasihan apabila ia menolak cintaku.

Mendengar kata-kata itu keluar dari bibir dia sendiri aku berusaha bersikap tenang walaupun sebenarnya aku merasa marah sekali. Aku berusaha mendengar penjelasan dia dengan sabar walaupun sebenarnya aku ingin berteriak di depan mukanya tapi yang muncul hanya segaris senyuman di bibirku.

Kemudian dia meminta maaf kepadaku dan berkata kalau ia sudah mulai mencintai diriku. Rdia juga berjanji untuk memperbaiki kesalahan yang telah dibuatnya.

Aku tidak tahu apakah aku harus marah dan memutuskan  dia atau memaafkan dan mencoba mengerti dirinya.

Lagi-lagi tatapan mata dia yang bersinar membuat aku lupa akan semua kesalahannya.

Aku menerima permintaan maaf  dia. Bagiku setiap orang wajar berbuat kesalahan dan layak untuk memperoleh kesempatan kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya.

Ternyata memaafkan itu tidak semudah yang aku bayangkan.

dia memang berubah. Ia menjadi lebih memperhatikan diriku dan lebih memiliki inisiatif membangun komunikasi.

Aku benar-benar melihat perubahan dalam diri dia, melalui perhatian dan perlakuannya ia hendak menunjukkan kalau ia mencintai diriku.

Hatiku berusaha untuk menerima segala kebaikan dia namun hatiku itu terlanjur sudah terluka saat dia mengatakan ia menerima cintaku oleh karena kasihan melihat diriku apabila ia menolak cintaku.

Segala perubahan yang dia perlihatkan tak bisa lagi menyembuhkan hatiku yang terlanjur sudah menjadi pahit.

Aku memutuskan membiarkan hubungan kami menggantung begitu saja tanpa suatu kejelasaan. Sudah dua bulan aku tidak pernah bertemu lagi dengan dia.

Menelepon sekalipun tidak pernah. Hanya  dia yang sekali-kali menelepon menanyakan kabarku. Aku sudah tidak bisa menerima dia lagi di dalam hatiku.

Perasaan telah ditipu dan disakiti membuat aku sangat membenci dia.

Dengan sepihak aku sudah menganggap tidak ada lagi hubungan diantara kami berdua. Mulai sejak itulah hatiku mulai kembali dikuasai oleh gelapnya malam yang mengaburkan cahaya sinar bintang di dalam hatiku.

"joe?joe?!"

Dia memangil diriku.

"Ada apa ??"

Aku tak sanggup memandang wajahnya, yang terlintas dikepalaku setiap kali melihat wajahnya hanyalah bagaimana caranya aku mengatakan kepada dirinya kalau aku mau mengakhiri hubungan kami tanpa melukai perasaannya. dan kembali berkata

"Kau belum memberitahu aku kenapa kau suka coklat?"

Pertanyaan dia ada-ada saja, aku berpikir mungkin pertanyaan itu hanya usaha dia untuk memulai suatu pembicaraan.

"jawabku, aku suka coklat karena coklat itu membuat kenyang perutku."

Aku tertawa. Aku tak tak tahu apa yang sebenarnya yang sedang aku tertawakan, apakah jawabanku yang konyol atau wajah dia yang terlihat binggung setelah mendengar jawabanku. dia kemudian juga tertawa lalu ia berkata

"Aku suka coklat karena coklat itu rasanya manis dan dapat membuat hati orang yang memakannya menjadi semanis coklat."

Suara si penjual kue menyuruh aku untuk maju ke depan. Kini giliranku untuk memesan sudah tiba. Aku berkata kepada dia supaya memesan bersama-sama dengan diriku.

Setelah mendapatkan pesanan kue yang kami inginkani, kami berdua berjalan keluar dari mall. Kuperhatikan jam tanganku, sekarang sudah jam sembilan tepat.

Di luar mall Raine memanggil diriku

"joe??."

"Ada apa ?"

"Besok kita jadi bertemu?"

"Ya  sesuai dengan kesepakatan kita sebelumnya?"

"joe??"

Dia menyebut namaku lagi

"Ada apa ?"

"Maafkan kalau selama ini aku salah."

Aku menghentikan langkahku. Kupandang dirinya, dia mengambil sekotak kue coklat dari dalam kantang plastiknya.

Aku menyambut tangan dia yang terjulur itu. Sekotak kue coklat diberikan dia kepadaku.

" apa maksud?."

Belum selesai aku berbicara, dia sudah melangkah pergi meninggalkan aku.

Aku mau mengejarnya tapi aku berpikir kalau-kalau dia sebenarnya sudah mengetahui rencanaku esok hari.

Dari kejauhan dia melambaikan tangannya dan kemudian berbalik lagi sampai akhirnya ia menghilang dari pandanganku.

Aku berdiri sambil memegang kue coklat pemberian dia. Aku memandangi kue coklat itu lalu seakan-akan aku mendengar suara dia terucap di dalam kepalaku,

"joe...kue coklat ini buatmu. Kau suka coklatkan?"

Besok hari Valentine, aku pandangi langit, ada bintang, tak banyak, tapi ia bersinar.