Friday, July 29, 2011

Cinta itu seperti Bunga


Suatu hari terlihat di sebuah halaman rumah seorang wanita sedang menyirami tanaman bunga yg sedang mekar, ia juga membersihkan daun-daun kering, dan rumput liar yg ada di sekitar tanaman bunga tersebut.

Ia sepertinya sangat menikmati pekerjaannya. Sesekali ia tersenyum sendiri demi melihat bunga yg ia rawat selama ini terlihat begitu indahnya. Sering terlintas dipikirannya untuk memetik bunga tersebut dan memindahkannya ke dalam vas, yg kemudian akan dipajang
di dalam kamarnya.                                              

Tapi kemudian ia berpikir lagi, alangkah egoisnya ia jika ia melakukan hal tersebut. Dan tentunya walaupun ia bisa menikmati indahnya bunga
tersebut, tapi umurnya tidak akan lama karna bunga tersebut akan cepat layu karna telah terpisah dari batang dan akarnya.

Akhirnya ia berjanji pada dirinya sendiri untuk membiarkan bunga itu tetap berada di halaman agar setiap orang yg lewat dapat menikmati
keindahannya. Dan ia berjanji akan tetap merawatnya agar ia dapat bertahan hidup, mekar dan mewangi lebih lama.

*** Seringkali banyak dari kita yg tidak menyadari bahwa cinta itu tak selamanya harus memiliki. Cinta yg tulus itu adalah bila kita mampu berbuat agar orang yg kita cintai itu bahagia, tanpa mengharapkan balasan.

Wanita jgn suka Gosipin orang lain


Seorang wanita menyebarkan sepotong berita yang memalukan mengenai tetangganya. Dalam beberapa hari, seluruh desa mengetahui berita yang memalukan itu. Dan, orang yang menjadi korbanya merasa sakit hati dan terpukul.

Kemudian, wanita yang menyebarluaskan berita buruk tersebut mengetahui bahwa berita itu betul – betul salah. Dia menyesal dan mendatangi orang tua yang bijak untuk meminta nasihat mengenai apa yang dapat ia lakukan untuk memperbaiki kesalahannya itu.

“ Pergilah ke pasar ,” kata orang tua bijak itu, “ dan blilah seekor ayam. Sembelihlah kemudian, dalam perjalanan pulang, cabuti bulu – bulunya dan buang satu per satu disepanjang jalan , “

Meskipun terkejut mendengarkan itu, dia melakukan apa yang disarankan orang bijak itu kepadanya. Namun, ia merasa masih belum bisa memperbaiki kesalahannya menyebarluaskan berita bohong itu kepada seluruh penduduk desa. Keesokan harinya, ia kembali mengunjungi orang tua bijak itu dan menanyakan kembali persoalannya. Orang bijak itu berkata, “ Hmm, kalu begitu, sekarang pergilah dan kumpulkanlah semua bulu yang telah kaubuang kemarin dan bawa kembali kepadaku. “

Wanita itu pun menyusuri jalan yang telah dilaluinya kemarin dan berusaha mengumpulkan bulu – bulu ayam yang telah dicabutinya. Sayang, angina telah menerbangkan bulu – bulu itu kesegala penjuru sehingga mustahilah ia bisa mengumpulkan semuanya. Setelah mencari – cari selama berjam – jam, ia kembali da hanya bisa membwa tiga helai ulu. Lalu, ia kembali menemui orang bijak itu.

“ Lihatlah !” kata orang bijak itu, “ sangat mudah mencabuti bulu ayam dan melemparkannya kemana anda suka, Namun, sangat tidak mungkin mengumpulkannya kembali. Begitu pula dengan gossip dan berita bohong. Tidak sulit untuk menyebarluaskan rumor, tetapi sekali terlempar, Anda tidak akan pernah secara penuh memperbaiki kesalahan anda.

Penyebab Kemiskinan


Manusia seringkali terlalu menuntut kepuasan dalam realita hidup, membiarkan uang, kekuasaan dan nafsu birahi menggerakkan kita, saling intrik, berebut dan mengambil paksa, perilaku bagai perampok yang kian lama kian menjadi.
Kemiskinan
Manusia lahir dalam dunia fana ini, bagai tertutup sepasang matanya, bagai bermain petak umpet untuk menangkap benda-benda yang diinginkan.
Dalam pengejaran keterikatan ini, dalam kesibukan, sangat sulit untuk bisa mengingat diri kita sebelumnya yang polos, lugu, baik, jujur dan bajik. Tenggelam dan tersesat di dalam hasrat keinginan yang demi ego dan keakuan semata.
Manusia seringkali terlalu menuntut kepuasan dalam realita hidup, membiarkan uang, kekuasaan dan nafsu birahi menggerakkan kita, saling intrik, berebut dan mengambil paksa, perilaku bagai perampok yang kian lama kian menjadi.

Meski memiliki penampilan luar seperti seorang priayi, tutur kata sangat beradab, tetap juga tidak bisa ditemukan sikap anggun bermoral seorang budiman sejati.
Saya mendadak menyadari apa yang disebut sebagai “kemiskinan”. Kehabisan uang dan kekurangan materi dalam kehidupan, bukanlah kemiskinan yang sebenarnya. Pengurasan, kerusakan dan kebobrokan jiwa barulah merupakan kemiskinan yang tak dapat diukur.
Seseorang demi mendapatkan yang diinginkan, lalu melakukan penipuan, pencurian, perampokan dan pembunuhan. Orang yang berjiwa bejat ini akan kehilangan martabat, kehormatan dan nama baik seorang manusia, akan kehilangan simpati dari orang lain. Karena siapa pun juga tidak ingin bergaul dengan seorang berandal.
Meski berandal tersebut berpakaian perlente, berpenampilan anggun, juga tidak akan bisa menutupi kebrutalan dan kekejaman mereka. Bila hanya melihat atau menilai dari penampilan luar, tidak mementingkan moral yang terkandung dalam hati manusia, penilaian yang demikian ini merupakan suatu kesedihan karena manusia sudah tidak mengerti bahwa dirinya telah tersesat!
Kepercayaan atau keyakinan membuat kita mengerti akan kehidupan, mengerti bahwa manusia mempunyai nasib keberuntungan, manusia mengalami reinkarnasi, nasib manusia ditentukan oleh balasan karma baik dan jahat.
Kebahagiaan dalam hidup adalah hasil dari perilaku kita yang mementingkan moral dan melakukan kebaikan.
Manusia mengejar kekuasaan, uang, cinta dan kebahagiaan dalam hidup. Hal itu tidak salah, tetapi harus dilakukan dengan jalan kebajikan dan kebaikan, karena balasan dari kebaikan itu adalah kebaikan juga, dengan demikian barulah benar-benar memiliki kebahagiaan yang sebenarnya.Sebaliknya, balasan dari kejahatan itu adalah kejahatan pula, bagaimana mungkin bisa mendapatkan kebahagiaan dalam hidup